Kamis, 14 Juni 2012

Tanyaku

Banyak yang takut jatuh,karena terlalu tinggi.Banyak yang takut terluka, karena rasa sakitnya. Banyak yang lebih memilih mendapatkan "yg seadanya", karena takut dengan resiko untuk mendapatkan "yang istmewa". Bagi kebanyakan orang, itulah yang dinamakan "realistis". Padahal,justru orang-orang  itulah yang tidak memahami kehidupan secara "realistis". Karena tak inginkan hal yang pasti akan terjadi, yang justru mutlak kita butuhkan. Tapi, kenapa? Puaskah hidup dalam dunia kepalsuan?Bahagiakah hidup dalam tempurung?
By Kacho

5 komentar:

  1. wahaha... hidup dalam tempurung ya,,, kasihan,, kok sepertinya saya mengerti example manusianya -_-.

    hidup dalam dunia kepalsuan... wew apalagi itu @@

    waduh berarti kebanyakan orang hidup dalam dunia imajiner dunk... gak realistis ...

    BalasHapus
  2. berani ambil resiko..?

    ya semua pasti ada perhitungannya.. :)

    BalasHapus
  3. @arif : wah, sapa example manusianya??
    kenapa dengan hidup dalam dunia kepalsuan?
    hem.....who knows? but, that's still possible :P

    @affaibnu : ya seharusnya memberanikan diri lah. memang ada perhitungan, tapi bukan berarti hanya yang pasti bisa dijangkau,kan?
    Justru perhitungan itu dibutuhkan karena yang akan dituju, sudah tidak lagi pasti akan dijangkau. Tetapi, justru sesuatu yang butuh usaha lebih untuk menjangkaunya. Kalau udah oasti kan g perlu juga diperhitungkan.

    BalasHapus
  4. tidak, hidup harus penuh perjuangan :P
    karena di setiap letih ada nikmat #halah

    BalasHapus
  5. @iskandar : setuju deh ama kamu :D

    BalasHapus

Mari bercuap-cuap :D