Tampilkan postingan dengan label Manga Quotes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manga Quotes. Tampilkan semua postingan

"Hidup itu bukan pilihan"

"I will live here. I will live in this world. I didn't wish to come here. No one asked me whether i wanted to come or not. At first i resented it. I wanted to return to the old world. I was sure we could never live in a place like this. I will live in this world, along with everyone else"  

taken from manga "7 Seeds" by Tamura Yumi


Itu adalah sebuah kutipan dari komik 7 seeds.
Singkat cerita, di situ diceritakan ada sekelompok orang yang sengaja "dikirim" ke masa depan. "Dikirim" yang dimaksud di sini bukan melakukan perjalanan lintas waktu kayak yang di film " Back to The Future". Tetapi, mereka sengaja ditidurkan dan dibekukan, terus "disimpan" di suatu tempat, yang dianggap aman, dengan tujuan agar mereka selamat dari bencana meteor menabrak bumi sehingga umat manusia tidak akan punah, dan masih bisa bersemi (emang bunga?) di masa depan nantinya.

Nah, mereka berjuang di bumi yang baru, bumi yang sedang beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang diakibatkan oleh tabrakan meteor, bumi yang sangat asing bagi mereka, dan bumi dimana orang-orang yang mereka kenal sebelumnya tidak ada, digantikan oleh orang-orang baru yang sebelumnya sama sekali tidak mereka kenal.

Dalam perjuangan mereka untuk bertahan hidup itulah sempat merasa marah, karena hanya merekalah yang "selamat" dari bencana itu, dan bahwa mereka harus menjalani hidup yang keras di alam yang baru. Mereka tidak pernah memilih ataupu meminta untuk menjadi relawan yang akan selamat dari bencana meteor itu dan harus bertahan hidup serta senantiasa bertarung dengan maut di bumi baru pasca bencana yang penuh dengan makhluk baru dan penampakan yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya untuk melestarikan populasi manusia di bumi.

- - -* * *- - -

Aku pikir, itu pun sama dengan kehidupan. Sempat saya sedikit berdebat soal kehidupan. Ada seseorang yang mengatakan bahwa, "Hidup itu bukan pilihan". Pada awalnya saya merasa aneh dengan kalimat itu. Bukankah hidup, atau mati itu pilihan kita? Iya, memang jika kita mengartikan kata hidup di sini seperti "menjalani hidup".

Tapi, kata "Hidup itu bukan pilihan", yang dimaksud olehnya bukanlah "menjalani hidup". Melainkan "menjadi hidup, ada, dan eksis", itulah yang ia maksud. Dan, yah, bukankah memang begitu adanya? Lalu, bagaimana dengan freewill yang kita miliki? Saya rasa, freewill itu baru kita miliki saat menjadi "ada", dilahirkan di dunia ini sebagai manusia tentunya. Karena perangkat-perangkat freewill baru kita miliki saat kita "eksis menjadi manusia"
Aku tidak pernah meminta untuk hidup, tidak pernah meminta untuk "di-ada-kan", dilahirkan ke dunia ini, untuk menjadi eksis.

Saat kita hidup, kita akan dipaksa untuk menjalani, menghadapi berbagai hal, mulai dari yang menyedihkan, menyakitkan, menyenangkan, hingga yang membahagiakan. Saat kita akhirnya memilih untuk hidup, kita akan dipaksa, mau tidak mau, untuk berhadapan dengan masa depan dan berbagai hal lainnya yang kita tidak tahu akan menjadi seperti apa.

Aku pun sempat berpikiran,"ingin menghilang". Berharap agar tidak pernah dilahirkan, tidak pernah eksis. Tapi, sekarang semua itu berubah. Ternyata "hidup" itu gak semuram yang ada di pikiranku, gak sekeras yang ada dalam bayanganku. Ternyata, di dalam perjalanannya ada begitu banyak hal yang bisa membuatku masih bersyukur bahwa, ya aku dilahirkan. Mungkin, pada awalnya memang aku merasa lebih baik menjadi "tidak ada" sejak awal.

Ya, meskipun kita merasa bahwa kita tidak pernah memilih untuk hidup, kita tetap harus menghadapinya. Karena suatu saat mungkin kita akan menemukan alasan yang akan membuat kita memutuskan untuk terus hidup. Karena suatu saat mungkin kita akan menemukan alasan untuk bersyukur dan menikmati hidup yang telah diberikan pada kita ini.

Sama seperti Arashi, meski awalnya ia begitu tidak menyukai dunianya yang baru, kesal karena ia tidak pernah meminta untuk menjadi "yang terpilih", selalu ingin kembali ke bumi lama yang ia kenal, bahkan ia sendiri tidak yakin mampu hidup di dunianya yang baru ini. Namun, karena ia terus berusaha untuk hidup, dengan usahanya yang terbaik, akhirnya ia mampu menerima kenyataan bahwa ia memang harus "hidup" di tempatnya yang baru itu bersama dengan orang-orang yang baru dikenalnya. Ia memutuskan hal itu sendiri.

Ehm...ya, begitulah pokoknya. :)

The Pain

Only if you've gone through the darkest times you will understand. The feelings are the same even if you're never experienced the wonderful things in life. Only after something has been contaminated and marred will it become beautiful thing. Pain can be healed with gentle care, darkness can be removed with sunlight. Don't underestimate the small things. Everything is significant. Everytime you fall down, or take the wrong path. It isn't wasted. As long as you don't consider it a waste. You will surely develop and grow over time. This is my theory. 


Fruits Basket by Takaya Natsuki

Raising Child

Your child will be a human just like you. The things that you were happy to receive and the things that happened to you that made you sad, you won't forget and you'll be there for your child. You'll give it lots of embraces and touches. You'll listen tou what your child has to say. If it does something wrong, you'll be sure to teach it why those things are bad. And if you ever lose control of yourself and end up wronging that child, then you will apologize and then you'll hug again. The two of us will raise our child like that

Fruits Basket - Takaya Natsuki

Ceritanya Si istri yang sedang hamil itu dulunya adalah anggota geng, suka berkelahi, dan bahkan juga diusir oleh orang tuanya. Nah, karena masa lalunya seperti itu, ia jadi takut kalau anaknya menolaknya karena masa lalunya itu. Jadi, si suami mengatakan hal itu.

Instead of Worrying, Do Something About It

When you're worried try not to think about it. For example imagine that you are surrounded by mountains of laundry. So much that you can't even move. What should you do when you're in such a laundry predicament. 

And what's worse, you have no washing machine so you have to wash each thing one by one by hand. Tohru-kun would be at loss. You may wonder if you can ever wash all of them. Can you ever get them like new again? Can you really do it all by yourself? 

And everytime you think like that you get anxious but time goes by, and you think,"What should I do?" So you start with the one by you feet, and think it may work out, if i try washing these first. It's okay to look at the rest of the laundry. But if you only look at what's ahead of you you may trip over the laundry around your feet. 

It's important to think about the "now" and of what you can do "today". Because if you wash each piece one by one like that you might be able to finish your job easily, and be able to see the sun easily. 

At those times that you get worried you've got to take a break. For example, you could read a book or watch some tv or even eat siumen with everyone.

Fruits Basket - Takaya Natsuki

A Little About "Bullied"


It's really hard to talk about being bullied. Before, i couldn't tell anyone either. But, after a while, mother found out. Then, without knowing why, i kept on apologizing like an idiot. Really, it's too sad. Being bullied by others is really too sad, too shameful. If mother found out, i'd feel even more awkward. What if, mother think i'm useless? I was scared. I don't want mother to think i was useless. So, i desperately tried to bluff, to hide the truth, this kind of self is even more sad. I felt ashamed.
When mother told on me, "It's Okay!" I was really comforted. Mother told me," This kind of thing is not shamefull", I was really comforted. I was so relieved that I started to cry. Because "Mother Love me" is what i want to hear mother say.


by Honda Tohru ~~ Fruits Basket (Takaya Natsuki) 

Ini hanya sebuah sudut pandang saja. Siapa tahu suatu saat, ada orang di sekitar kita yang menjadi korban bullying, agar kita tidak terlebih dulu menuntutnya untuk menjadi seperti apa. Tapi, cobalah pahami keadaannya, terimalah dia. Barulah, bimbing dia untuk bisa menghadapi masalahnya lebih baik lagi.

Painful Memories


"This is how i think of it. Even this way...
I'm still willing to continue living with the burden of this memory. Even though this is a painfull memory, even though this memory makes my heart ache... Sometimes, i almost want to ask God to let me forget this memory. But, as long as i try to be strong and not run away, doing my best, there will finally be someday....There will finally be someday i can overcome this painful memory. I believe i can. I believe i can do it. There is no memory that can be forgotten." -

Taken From Fruits Basket (Takaya Natsuki)

Be Aware


"At all times, having a firm understanding of your present situation is imperative. Like where you are, what's around you, how much time do you have, what your priorities are, and what is at your disposal" 

Taken from 7 Seeds (Tamura Yumi)

Menurutku sih, itu termasuk resep biar ati-ati dan kreatif

Especially to myself ;)

Jangan berandai-andai

"Whether it could have been better if we had done things differently is something we'll never know. since we're already here." 
by Ryo - 7 Seeds (Tamura Yumi)


Karena itulah, gak ada gunanya meratapi masa lalu dan terus berpikir "seandainya, jika saja aku begini dan begitu...de el el". Karena itu tidak akan mengubah apapun, dan hanya membuat kita semakin terjebak dalam masa lalu. Lebih baik fokus dengan apa yang kita lakukan sekarang. Karena hanya dengan begitulah kita bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.

by Kacho


Bukan berarti tidak boleh menyesal. Hanya saja, jangan terlalu lama berandai-andai atas hal yang memang sudah lewat.

Lessons from Mangas


Moonlight Night
"Moonlight Night" teach me that if we dont say anything at all, then it's our consequence that no one understand us.


Fruits Basket

"Fruits basket" told me that it's ok to make mistake for sometimes, as long as we've done the best , and fixed it at our best. That way, it's gonna be better.
And so, ugliness is not the thing to be underestimated, mocked or looked down for. It's for us to be more understanding each other wound, so that we could learn to live together better.




'Takaya Natsuki' through her mangas teach me that sometimes we just judge everything without knowing the real reason of others' are, without hearing more, without seeing more, without seeking more.

The Betrayed Demon

"That kind of demon that loves humanity until its's broke his heart" - Genei Musou (Takaya Natsuki)

 Itu adalah sebuah kutipan yang ada di komik Genei Musou karyanya Takaya Natsuki.

Ceritanya tentang seseorang yang "berbeda" dari orang-orang di sekitarnya, hingga akhirnya dianggap sebagai setan dan dikurung bertahun-tahun di dalam sebuah ruangan. Nah, dari ruang tempatnya dikurung lah ia melihat dari jauh "kebahagiaan" manusia. Ia terkesan dengan pemandangan itu.

Akhirnya saat ia memiliki kesempatan untuk keluar dari tempatnya dikurung, ia berusaha keras untuk menjaga pemandangan yang selalu ia lihat di balik jeruji, yang berarti ia melindungi manusia-manusia itu. Meskipun dulunya ia pernah dicaci maki dan diperlakukan tidak adil oleh manusia.

Namun suatu saat, ketika ia mengetahui dan merasakan sendiri betapa manusia itu begitu bodohnya membunuh orang-orang yang sebelumnya telah banyak menolong mereka hanya karena sebuah permasalahan dan  hasutan 1 atau 2 orang, dengan sangat brutal.

Kemudian ia jadi sangat membenci manusia karenanya. Baginya, sosok manusia yang brutal itulah sosok manusia yang sebenarnya. Semua kebaikan yang sebelumnya ditampakkan tidak lebih agar mereka mendapatkan keuntungan dari "sang penolong" ini.

Sejak saat itu, ia memutuskan untuk menjadi "demon" dan akan menghancurkan ras manusia. Dan, sejak saat itu pun manusia juga bermusuhan dengannya, dan benar-benar menganggapnya sebagai "demon".

---------

Itu sekilas cerita. Entah apa yang ingin saya sampaikan di sini. Hanya saja kupikir, seringkali kita mengklaim, memaki-maki orang lain seakan ia adalah "demon" hanya karena kita berpikir bahwa apa yang ia lakukan itu jahat. Namun, kita tidak pernah berpikir kembali. Sebenarnya, apa yang membuat mereka, yang kita sebut "demon", melakukan semua hal itu.Yang ada di pikiran kita, hanya semua itu jahat dan brutal. Kemudian, gantian, dengan brutalnya kita akan bernafsu untuk memberi "ganjaran" pada orang-orang seperti itu.

Namun pernahkah kita menanyakan pada diri sendiri, bahwa sebenarnya kitalah yang termasuk dalam golongan orang-orang yang menyebabkan mereka menjadi "demon". Kitalah yang menyebarkan dan semakin menguatkan budaya-budaya menjijikkan manusia, menghasut, menghujat seenaknya. Tanpa pernah mau berpikir kembali, segala hal yang terjadi di balik kenyataan yang ia lihat. Manusia hanya mempercayai apa yang ia lihat, tapi tidak dengan apa yang sebenarnya ada di balik yang terlihat. Tanpa kita sadari, sebenarnya kitalah yang telah menjadi kaum munafik.

Padahal, mungkin saja, justru orang-orang yang kita sebut "demon" itulah yang sangat mencintai manusia. Mungkin, mungkin saja mereka hanya terluka oleh "manusia" itu sendiri. Mungkin, mungkin saja, kitalah, yang dicintainya, yang justru melukainya teramat dalam. Mungkin, mungkin kitalah yang telah mengkhianati kepercayaan dan pengorbanannya.


Pernahkah, kita berpikir, segala kejahatan, pembantaian, bunuh diri, terorisme, dan lain sebagainya itu adalah karena kesalahan kita. Kita yang lupa akan sekitar kita. Kita yang hanya peduli diri sendiri dan dunia kita. Tapi, pernahkah kita peduli terhadap rasa sakit, atau hanya sekedar "hati" orang lain?? Hanya peduli pada budaya, norma, dan segala tetek bengek kemasyarakatan lainnya. Tapi, pernahkah kita benar-benar melihat pada realitas sebenarnya. Terlepas dari budaya timur-barat, baik-buruk. Apa sebenarnya yang telah terjadi pada masyarakat kita. Hingga bisa muncul orang-orang yang kita sebut sebagai "demon"

That was just what I think.
"Demon", is they really the demon? Or, we r the one that deserved to be called "Demon"??

Meski Bukan Aku

" I'm a lucky person. I'm loved by my rich parents. I'm gloomy, but I have Saki. But I wanted something else. I wanted what I was not. I wanted to be 'unhappy'. The 'unhappy' people on TV. An unhappy past, an unhappy life, It was like they were drunk with unhappiness.
It may have been because of that unusual sadness that is expressed in her that I become best friends with Saku. I soon ended up finding out that Unhappiness is not something to be 'desired'.
IT CRUSHES YOU. YOU'RE ALIVE, BUT DEAD. It's almost like having no escape. EVERYDAY LITTLE BY LITTLE YOU DIE. THAT IS THE REALITY OF IT. And in that reality I could do nothing but watch. Only my shallowness, Become clear.

I LOVE YOU. I LOVE THE PEOPLE LIKE YOU. EVEN IF ANYONE OR ANYTHING DENIES YOU, PLEASE DON'T THINK I'M THE SAME. I'LL STAY HERE STAY BY YOUR SIDE. DON'T FEEL LIKE YOU'RE ALONE IN THIS WORLD." -- Quote by Sei-Chan from 'Hoshi Wa Utau',written and ilustrated by Takaya Natsuki



Itu adalah sebuah quote yang aku sukai. Yang cukup mewakili apa yang selalu aku rasakan. Meski bukan aku yang mengalami, meski aq bukanlah yang menjadi korban, tetapi selalu merasa. Kadang aku pernah mencemooh diriku lebay. Tapi sepertinya bukan, itulah yang kurasakan, yang benar-benar kurasakan. Dan, aku tidak mau mengacuhkan dan meremehkan diriku lagi. Belajar untuk menerima diriku apa adanya. Bersahabat dan berkembang bersamanya. I dont want to abandon u again, my self :)

I like Takaya Natsuki, she could understand me even though she dont know me.